Bahaya di Balik Salah Gendong

Bahaya di Balik Salah Gendong
Menggendong bayi. Doc. Shutterstock
Menggendong bayi memang tak boleh sembarangan, ada aturannya! Kalau tak hati-hati, kesalahan dalam menggendong bisa berdampak negatif pada si kecil. 

Menurut dr M Vinci Ghazali, Sp.A dari Brawijaya Women & Children Clinic @Sahid Sahirman Memorial Hospital, ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan para orangtua:


1. Tradisi menggendong yang salah

Kebiasaan turun menurun dalam keluarga tentang menggendong bayi belum tentu semuanya benar. “Misalnya, kebiasaan untuk mengutamakan titik berat saat menggendong adalah di punggung bayi, padahal bagian terberat pada bayi adalah pada kepala,” contoh dr Vinci. 

Yang harus diperhatikan saat menggendong bayi –utamanya bayi di bawah usia 3 bulan- adalah selalu menopang bagian leher dan kepalanya terlebih dulu.


2. Hanya mengandalkan kekuatan tangan saja saat menggendong. 

3. Menggendong dengan satu posisi saja selama beberapa jam. 

4. Kurang cermat memilih gendongan

Memilih alat gendongan tak cukup hanya sekadar keren melainkan fungsinya harus disesuaikan dengan kebutuhan bayi. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan saat memilih gendongan antara lain: berat badan bayi (jangan pilih gendongan yang terlalu kecil atau terlalu besar), bahan, keamanan, kenyamanan, kepraktisan, dan perawatan dari gendongan. 


Bahaya yang Mengintai

Menggendong bisa dilakukan baik dengan tangan kosong maupun dengan alat gendongan. Keduanya bisa menimbulkan bahaya jika dilakukan dengan cara yang salah. Berikut beberapa dampaknya:

- Asfiksia

Yaitu keadaan dimana terjadi gangguan pertukaran udara pernapasan, sehingga tubuh kekurangan oksigen. Bayi bisa mengalami hal ini utamanya saat bayi digendong dalam posisi tegak, seperti saat akan disendawakan. 

“Jamak terjadi saat disendawakan, hidung bayi tertutup oleh bahu ibu. Karena itu pastikan bahu ibu ada di leher bayi sehingga hidung bayi bebas saat menggendong pada posisi ini,” saran dr Vinci. 

Juga, jangan meletakkan alas di bahu walau dengan alasan untuk mencegah gumoh mengotori baju. Pasalnya, bila bayi bergerak maka alas dapat berkerut yang berpotensi menutupi hidung bayi.

Untuk itu, manfaatkanlah cermin –utamanya saat Moms sendiri. Tujuannya untuk mengecek kembali keadaan lubang hidung si kecil saat digendong. 


- Dislokasi

Lepas atau keluarnya sendi dari tempat yang seharusnya atau keseleo. Salah satu penyebabnya adalah menggendong bayi terlalu kuat atau lama pada satu posisi saja. Akibatnya bayi menjadi rewel karena tidak nyaman. Biasanya bayi akan berontak dan jika terlalu kuat dapat menyebabkan dislokasi. 

“Sebaiknya Moms mengganti posisi menggendong maksimal setiap satu jam sekali,” tegas dr Vinci.


- Tergelincir dan Jatuh

Bayi biasanya akan bergerak-gerak saat digendong, utamanya saat menangis. Jadi, bila cara menggendongnya tidak tepat -contohnya memegang bayi hanya dengan tangan dan tidak 'menguncinya dengan tubuh dan jari Moms - berisiko sebabkan bayi tergelincir, bahkan jatuh. 


- Fraktur

Fraktur adalah patah atau retaknya tulang yang bisa disertai kerusakan pada jaringan di sekitarnya. Jika si kecil sampai terjatuh dari gendongan Moms, risiko patah tulang besar terjadi. Bagian yang patah tentu bergantung pada posisi bayi saat jatuh.


- Trauma

Adalah ‘luka’ pada tubuh. Trauma yang dapat terjadi tergantung pada lokasi terjadinya. Misalnya, jika si kecil belum mampu duduk, namun Moms memaksanya untuk digendong pada posisi duduk maka dapat menimbulkan trauma pada tulang punggungnya. 

“Tulang punggung bayi ‘dipaksa’ untuk menegakkan tubuhnya, padahal otot sekitar tulang punggung ikut berperan dan bertanggung jawab agar tulang punggung tegak,” sambung dr Vinci. 

Jika hal tersebut dibiarkan maka tidak tertutup kemungkinan di masa depannya si kecil mengalami kelainan pada tulang belakang. Misalnya lordosis (tulang belakang yang bengkok ke depan), kiposis (tulang belakang melengkung ke belakang sehingga tampak bungkuk), skoliosis (tulang belakang melengkung, baik ke kiri maupun ke kanan).


- Respiratory Distress

Kesulitan bernapas, hal ini bisa disebabkan oleh penggunaan gendongan khususnya model ransel. Jika ukuran gendongan terlalu sempit dapat menyebabkan gangguan pengembangan rongga dada sehingga mengganggu pengembangan paru saat menarik napas. Akibatnya, bayi akan merasa sesak saat bernapas.


- Infeksi Saluran Kemih

Penggunaan popok (diaper) pada bayi ternyata dapat memicu timbulnya infeksi pada saluran kemih/kencing.

Diaper yang telah terisi penuh atau terlalu ketat, akan memungkinkan kuman yang terdapat di sana masuk kembali ke saluran kemih si kecil, terutama pada penggunaan gendongan model punggung yang ukurannya terlalu kecil. 


- Muntah

Gendongan yang terlalu 'sempit' juga dapat menekan perut si kecil dan dapat menyebabkan muntah, apalagi jika si kecil habis minum susu. 


Berikut panduan cara menggendong menurut dr M Vinci Ghazali, Sp.A:

1. Pada satu bulan pertama, bayi belum memiliki kekuatan leher. Letakkan satu tangan di tengkuk bayi untuk mempertahankan tulang leher bayi. Lalu taruh tiga jari Moms - jika si ibu menggendong dengan posisi bayi di sebelah kiri ibu - dengan ketentuan: ibu jari di sebelah kiri leher bayi, jari telunjuk di belakang kepala di atas leher dan jari tengah di sisi lain leher. 

Atau, bagi ibu muda yang belum terlatih boleh juga jari telunjuk dan jari tengah di belakang kepala di atas leher, jari manis dan kelingking di sisi lain leher. 

2. Letakkan tangan Moms yang lainnya di punggung bayi dengan posisi empat jari menghadap ke kepala bayi yang berfungsi untuk menahan tulang belakang. Agar bayi tidak mudah meluncur ke bawah, selipkan ibu jari di antara kaki si kecil.

3. Setelah memastikan posisi si kecil sudah ‘pas’ di tangan, dekatkan tubuh Moms ke bayi. Lalu fiksasi – kunci - tubuh bayi dengan tubuh Moms. Baru tegakkan tubuh Moms bersamaan dengan si kecil.

4. Lalu, letakkan kepala bayi pada lipatan siku. Tangan kanan tetap menopang bokong bayi hingga punggung. Tangan kiri menyangga kepala dan leher. Usahakan letak kepala lebih tinggi dari bokong bayi kira-kira 30 derajat.

5. Saat akan meletakkan bayi ke tempat tidur atau box, tetap pertahankan bayi menempel dengan tubuh penggendong dan dengan posisi tangan yang telah dijelaskan di atas (pada poin 1 dan 2), lalu letakkan bayi. Lepaskan lebih dulu tangan pada punggung bayi baru tangan pada bagian kepalanya.

6. Jika Moms ingin memindahkan bayi dari satu penggendong ke penggendong lainnya, sebaiknya meletakkan bayi ke tempat tidur atau box terlebih dulu. Jangan langsung dipindahkan sehingga prinsip spalk tetap dapat dilakukan.





Sumber : Okezone



April 04, 2011

0 komentar:

Post a Comment