Showing posts with label Tales. Show all posts

7.17.2022

DANAU TOBA DAN PUTRI IKAN CANTIK

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang Petani Muda yatim piatu di pulau Sumatera.Pada suatu hari, Petani Muda memancing seekor ikan yang sangat indah. Warnanya kuning keemasan. Ketika dipegangnya, tiba-tiba ikan tersebut berubah menjadi seorang Putri Jelita.

Ternyata, Putri Jelita itu adalah wanita yang dikutuk karena melanggar suatu larangan. Ikan itu kemudian akan berubah menjadi sejenis makhluk yang pertama kali menyentuhnya.

Nah, karena yang pertama kali menyentuhnya manusia, maka ikan itu pun berubah menjadi manusia.  Petani Muda lalu meminta Putri Jelita untuk menjadi isterinya.

Lamaran tersebut diterima Putri Jelita dengan satu syarat: Petani Muda tidak akan pernah menceritakan asal-usulnya yang berasal dari ikan pada siapa pun.

Petani Muda menyanggupi syarat Putri Jelita tersebut. 

danau toba
Danau Toba dan Putri Ikan Cantik, Dok. www.ebookanak.com

Setahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang mempunyai kebiasaan buruk.

Anak itu amat suka makan.

Anak itu akan makan semua makanan yang ada.

Pada suatu hari, anak itu memakan semua makanan yang disediakan untuk orangtuanya.

Padahal Petani Muda dan istrinya belum sempat makan makanan itu.

Tapi sang anak masih terus merengek-rengek minta makan.

Petani Muda menjadi sangat jengkel dan tak sengaja ia berseru, ?Dasar anak keturunan ikan!?

Perkataan itu dengan sendirinya telah membuka rahasia isterinya.

Dengan demikian janji mereka telah dilanggar.

Setelah kejadian tersebut, tiba-tiba istri dan anaknya menghilang tanpa jejak.

Namun, di tanah bekas pijakan mereka menyemburlah mata air.

Lama-kelamaan air yang mengalir dari mata air tersebut makin besar.

Dan akhirnya menjadi sebuah danau yang sangat luas.

Danau itu kini bernama Danau Toba.

(Dongeng dari Sumatera Utara)


Pesan Moral
Berusahalah untuk menjaga dan menepati janji.

(www.ebookanak.com)

Kontributor: Penulis: Nurul Ihsan
Penyunting: Nurul Ihsan
Ilustrator: Rachman
Desainer dan layouter: Kamil Supriatna
Penerbit: Transmedia Pustaka (Jakarta, Indonesia)
Copyright: Nurul Ihsan/www.cbmagency.com

8.16.2016

TUPAI DAN IKAN GABUS

Dulu di suatu telaga di kalimantan barat, hiduplah seekor tupai yang bersahabat dengan seekor ikan gabus.persahabatan mereka sangatlah erat.

Suatu hari si gabus jatuh sakit, berhari-hari ia tidak mau makan,tapi ia hanya mau makan hati ikan yu.mendengar permintaanya itu tupai agak terkejut karena ikan yu adalah seekor ikan yg sangat kuat,besar,dan ganas.tapi tupai tetap akan pergi karena temanya sakit.

Lalu tupai meninggalkan tempat gabus istirahat. lalu ia mencari pohon kelapa, untuk agar ia dapat masuk kedalamya lalu pergi ke laut.akhirnya ia sampai di laut.

Sesampainya disana, tiba-tiba muncul seekor ikan yu dan langsung melahap kelapa dan tupai di dalamya. lalu tupai keluar dari kelapa.lalu ia mulai menggerogoti hati ikan yu.ikan yu pun mati lalu tupai terseret ke pantai.denagn senang ia mendapatkan hati ikan yu.

Lalu tupai memberi makan ikan gabus dengan hati ikan yu. lalu si gabis sembuh.dan lalu mereka bahagia selamanya.

7.29.2016

ALADIN DAN LAMPU AJAIB

Dahulu kala, di kota Persia, seorang Ibu tinggal dengan anak laki-lakinya yang bernama Aladin. Suatu hari datanglah seorang laki-laki mendekati Aladin yang sedang bermain. Kemudian laki-laki itu mengakui Aladin sebagai keponakannya. Laki-laki itu mengajak Aladin pergi ke luar kota dengan seizin ibu Aladin untuk membantunya. Jalan yang ditempuh sangat jauh. Aladin mengeluh kecapaian kepada pamannya tetapi ia malah dibentak dan disuruh untuk mencari kayu bakar, kalau tidak mau Aladin akan dibunuhnya. 

Aladin akhirnya sadar bahwa laki-laki itu bukan pamannya melainkan seorang penyihir. Laki-laki penyihir itu kemudian menyalakan api dengan kayu bakar dan mulai mengucapkan mantera. "Kraak…" tiba-tiba tanah menjadi berlubang seperti gua. Dalam lubang gua itu terdapat tangga sampai ke dasarnya. "Ayo turun! Ambilkan aku lampu antik di dasar gua itu", seru si penyihir. "Tidak, aku takut turun ke sana", jawab Aladin. Penyihir itu kemudian mengeluarkan sebuah cincin dan memberikannya kepada Aladin. "Ini adalah cincin ajaib, cincin ini akan melindungimu", kata si penyihir. Akhirnya Aladin menuruni tangga itu dengan perasaan takut. 

Setelah sampai di dasar ia menemukan pohon-pohon berbuah permata. Setelah buah permata dan lampu yang ada di situ dibawanya, ia segera menaiki tangga kembali. Tetapi, pintu lubang sudah tertutup sebagian. "Cepat berikan lampunya !", seru penyihir. "Tidak ! Lampu ini akan kuberikan setelah aku keluar", jawab Aladin. Setelah berdebat, si penyihir menjadi tidak sabar dan akhirnya "Brak!" pintu lubang ditutup oleh si penyihir lalu meninggalkan Aladin terkurung di dalam lubang bawah tanah. Aladin menjadi sedih, dan duduk termenung. "Aku lapar, Aku ingin bertemu ibu, Tuhan, tolonglah aku !", ucap Aladin. Aladin merapatkan kedua tangannya dan mengusap jari-jarinya. 

Tiba-tiba, sekelilingnya menjadi merah dan asap membumbung. Bersamaan dengan itu muncul seorang raksasa. Aladin sangat ketakutan. "Maafkan saya, karena telah mengagetkan Tuan", saya adalah peri cincin kata raksasa itu. "Oh, kalau begitu bawalah aku pulang kerumah." "Baik Tuan, naiklah kepunggungku, kita akan segera pergi dari sini", ujar peri cincin. Dalam waktu singkat, Aladin sudah sampai di depan rumahnya. "Kalau tuan memerlukan saya panggillah dengan menggosok cincin Tuan." 

Aladin menceritakan semua hal yang di alaminya kepada ibunya. "Mengapa penyihir itu menginginkan lampu kotor ini ya ?", kata Ibu sambil menggosok membersihkan lampu itu. "Syut !" Tiba-tiba asap membumbung dan muncul seorang raksasa peri lampu. "Sebutkanlah perintah Nyonya", kata si peri lampu. Aladin yang sudah pernah mengalami hal seperti ini memberi perintah,"kami lapar, tolong siapkan makanan untuk kami". 

Dalam waktu singkat peri Lampu membawa makanan yang lezat-lezat kemudian menyuguhkannya. "Jika ada yang diinginkan lagi, panggil saja saya dengan menggosok lampu itu", kata si peri lampu. Demikian hari, bulan, tahunpun berganti, Aladin hidup bahagia dengan ibunya. Aladin sekarang sudah menjadi seorang pemuda. 

Suatu hari lewat seorang Putri Raja di depan rumahnya. Ia sangat terpesona dan merasa jatuh cinta kepada Putri Cantik itu. Aladin lalu menceritakan keinginannya kepada ibunya untuk memperistri putri raja. "Tenang Aladin, Ibu akan mengusahakannya". Ibu pergi ke istana raja dengan membawa permata-permata kepunyaan Aladin. "Baginda, ini adalah hadiah untuk Baginda dari anak laki-lakiku." Raja amat senang. "Wah..., anakmu pasti seorang pangeran yang tampan, besok aku akan datang ke Istana kalian dengan membawa serta putriku". 

Setelah tiba di rumah Ibu segera menggosok lampu dan meminta peri lampu untuk membawakan sebuah istana. Aladin dan ibunya menunggu di atas bukit. Tak lama kemudian peri lampu datang dengan Istana megah di punggungnya. "Tuan, ini Istananya". Esok hari sang Raja dan putrinya datang berkunjung ke Istana Aladin yang sangat megah. "Maukah engkau menjadikan anakku sebagai istrimu ?", Tanya sang Raja. Aladin sangat gembira mendengarnya. Lalu mereka berdua melaksanakan pesta pernikahan. 

Nun jauh disana, si penyihir ternyata melihat semua kejadian itu melalui bola kristalnya. Ia lalu pergi ke tempat Aladin dan pura-pura menjadi seorang penjual lampu di depan Istana Aladin. Ia berteriak-teriak, "tukarkan lampu lama anda dengan lampu baru !". Sang permaisuri yang melihat lampu ajaib Aladin yang usang segera keluar dan menukarkannya dengan lampu baru. Segera si penyihir menggosok lampu itu dan memerintahkan peri lampu memboyong istana beserta isinya dan istri Aladin ke rumahnya.

Ketika Aladin pulang dari berkeliling, ia sangat terkejut. Lalu memanggil peri cincin dan bertanya kepadanya apa yang telah terjadi. "Kalau begitu tolong kembalikan lagi semuanya kepadaku", seru Aladin. "Maaf Tuan, tenaga saya tidaklah sebesar peri lampu," ujar peri cincin. "Baik kalau begitu aku yang akan mengambilnya. Tolong Antarkan kau kesana", seru Aladin. Sesampainya di Istana, Aladin menyelinap masuk mencari kamar tempat sang Putri dikurung.

7.28.2016

BUAYA YANG TIDAK JUJUR

Ada sebuah sungai di pinggir hutan. Di sungai itu hiduplah sekelompok buaya. Buaya itu ada yang berwarna putih, hitam, dan belang-belang. Meskipun warna kulit mereka berbeda, mereka selalu hidup rukun.

Di antara buaya-buaya itu ada seekor yang badannya paling besar. Ia menjadi raja bagi kelompok buaya tersebut. Raja buaya memerintah dengan adil dan bijaksana sehingga dicintai rakyatnya.

Suatu ketika terjadi musim kemarau yang amat panjang. Rumput-rumput di tepi hutan mulai menguning. Sungai-sungai mulai surut airnya. Binatang-binatang pemakan rumput banyak yang mati. Begitu juga dengan buaya-buaya. Mereka sulit mencari daging segar. Kelaparan mulai menimpa keluarga buaya. Satu per satu buaya itu mati. Setiap hari ada saja buaya yang menghadap raja. Mereka melaporkan bencana yang dialami warga buaya. Ketika menerima laporan tersebut, hati raja buaya merasa sedih. Untung Raja Buaya masih memiliki beberapa ekor rusa dan sapi. Ia ingin membagi-bagikan daging itu kepada rakyatnya.

Raja Buaya kemudian memanggil Buaya Putih. Dan Buaya Hitam. Raja Buaya lalu berkata, “Aku tugaskan kepada kalian berdua untuk membagi-bagikan daging. Setiap pagi kalian mengambil daging di tempat ini. Bagikan daging itu kepada teman-temanmu!” “Hamba siap melaksanakan perintah Paduka Raja,” jawab Buaya Hitam dan putih serempak. “Mulai hari ini kerjakan tugas itu!”perintah Raja Buaya lagi. Kedua Buaya itu segera memohon diri. Mereka segera mengambil daging yang telah disediakan. Tidak lama kemudian mereka pergi membagi-bagikan daging itu.

Buaya Putih membagikan makanan secara adil. Tidak ada satu buaya pun yang tidak mendapat bagian. Berbeda dengan Buaya Hitam, daging yang seharusnya dibagi-bagikan, justru dimakannya sendiri. Badan Buaya Hitam itu semakin gemuk.

Selesai membagi-bagikan daging, Buaya Putih dan Buaya Hitam kembali menghadap raja. “Hamba telah melaksanakan tugas dengan baik, Paduka,” lapor Buaya Putih. “Bagus! Bagus! Kalian telah menjalankan tugas dengan baik,” puji Raja. Suatu hari setelah membagikan makanan,Buaya Putih mampir ke tempat Buaya Hitam. Ia terkejut karena di sana-sini banyak bangkai buaya. 


Sementara tidak jauh dari tempat itu Buaya Hitam tampak sedang asyik menikmati makanan. Buaya Putih lalu mendekati Buaya Hitam. “Kamu makan jatah makanan temen-teman, ya?” “Kamu biarkan mereka kelaparan!” ujar Buaya Putih. 

“Jangan menuduh seenaknya!” tangkis Buaya Hitam. “Tapi, lihatlah apa yang ada di depanmu itu!” sahut Buaya Putih sambil menunjuk seekor buaya yang mati tergeletak. “Itu urusanku, engkau jangan ikut campur! Aku memang telah memakan jatah mereka. engkau mau apa?” tantang Buaya Hitam. 

“Kurang ajar!” ujar Buaya Putih sambil menyerang Buaya Hitam. Perkelahian pun tidak dapat dielakkan. Kedua buaya itu bertarung seru. Akhirnya, Buaya Hitam dapat dikalahkan. Buaya Hitam lalu dibawa kehadapan Raja. Beberapa buaya ikut mengiringi perjalanan.

7.27.2016

BALAS BUDI SI BURUNG BANGAU

Dahulu kala di suatu tempat di Jepang, hidup seorang pemuda bernama Yosaku. Kerjanya mengambil kayu bakar di gunung dan menjualnya ke kota. Uang hasil penjualan dibelikannya makanan. Terus seperti itu setiap harinya. Hingga pada suatu hari ketika ia berjalan pulang dari kota ia melihat sesuatu yang menggelepar di atas salju. 

Setelah di dekatinya ternyata seekor burung bangau yang terjerat diperangkap sedang meronta-ronta. Yosaku segera melepaskan perangkat itu. Bangau itu sangat gembira, ia berputar-putar di atas kepala Yosaku beberapa kali sebelum terbang ke angkasa. Karena cuaca yang sangat dingin, sesampainya dirumah, Yosaku segera menyalakan tungku api dan menyiapkan makan malam. Saat itu terdengar suara ketukan pintu di luar rumah. 

Ketika pintu dibuka, tampak seorang gadis yang cantik sedang berdiri di depan pintu. Kepalanya dipenuhi dengan salju. "Masuklah, nona pasti kedinginan, silahkan hangatkan badanmu dekat tungku," ujar Yosaku. "Nona mau pergi kemana sebenarnya ?", Tanya Yosaku. "Aku bermaksud mengunjungi temanku, tetapi karena salju turun dengan lebat, aku jadi tersesat." "Bolehkah aku menginap disini malam ini ?". "Boleh saja Nona, tapi aku ini orang miskin, tak punya kasur dan makanan." ,kata Yosaku. "Tidak apa-apa, aku hanya ingin diperbolehkan menginap". 

Kemudian gadis itu merapikan kamarnya dan memasak makanan yang enak. Ketika terbangun keesokan harinya, gadis itu sudah menyiapkan nasi. Yosaku berpikir bahwa gadis itu akan segera pergi, ia merasa kesepian. Salju masih turun dengan lebatnya. "Tinggallah disini sampai salju reda." Setelah lima hari berlalu salju mereda. 

Gadis itu berkata kepada Yosaku, "Jadikan aku sebagai istrimu, dan biarkan aku tinggal terus di rumah ini." Yosaku merasa bahagia menerima permintaan itu. "Mulai hari ini panggillah aku Otsuru", ujar si gadis. Setelah menjadi Istri Yosaku, Otsuru mengerjakan pekerjaan rumah dengan sungguh-sungguh. Suatu hari, Otsuru meminta suaminya, Yosaku, membelikannya benang karena ia ingin menenun.

Otsuru mulai menenun. Ia berpesan kepada suaminya agar jangan sekali-kali mengintip ke dalam penyekat tempat Otsuru menenun. Setelah tiga hari berturut-turut menenun tanpa makan dan minum, Otsuru keluar. Kain tenunannya sudah selesai. "Ini tenunan ayanishiki. 

Kalau dibawa ke kota pasti akan terjual dengan harga mahal. Yosaku sangat senang karena kain tenunannya dibeli orang dengan harga yang cukup mahal. Sebelum pulang ia membeli bermacam-macam barang untuk dibawa pulang. "Berkat kamu, aku mendapatkan uang sebanyak ini, terima kasih istriku. Tetapi sebenarnya para saudagar di kota menginginkan kain seperti itu lebih banyak lagi. "Baiklah akan aku buatkan", ujar Otsuru. 

Kain itu selesai pada hari keempat setelah Otsuru menenun. Tetapi tampak Otsuru tidak sehat, dan tubuhnya menjadi kurus. Otsuru meminta suaminya untuk tidak memintanya menenun lagi.

Di kota, Sang Saudagar minta dibuatkan kain satu lagi untuk Kimono tuan Putri. Jika tidak ada maka Yosaku akan dipenggal lehernya. Hal itu diceritakan Yosaku pada istrinya. "Baiklah akan ku buatkan lagi, tetapi hanya satu helai ya", kata Otsuru. Karena cemas dengan kondisi istrinya yang makin lemah dan kurus setiap habis menenun, Yosaku berkeinginan melihat ke dalam ruangan tenun. 

Tetapi ia sangat terkejut ketika yang dilihatnya di dalam ruang menenun, ternyata seekor bangau sedang mencabuti bulunya untuk ditenun menjadi kain. Sehingga badan bangau itu hampir gundul kehabisan bulu. 

Bangau itu akhirnya sadar dirinya sedang diperhatikan oleh Yosaku, bangau itu pun berubah wujud kembali menjadi Otsuru. "Akhirnya kau melihatnya juga", ujar Otsuru. "Sebenarnya aku adalah seekor bangau yang dahulu pernah Kau tolong", untuk membalas budi aku berubah wujud menjadi manusia dan melakukan hal ini," ujar Otsuru. "Berarti sudah saatnya aku berpisah denganmu", lanjut Otsuru. "Maafkan aku, ku mohon jangan pergi," kata Yosaku. Otsuru.

7.26.2016

DATU MUSENG DAN MAIPA DEAPATI

Kisah CINTA nan mengharukan antara Datu Museng dan Maipa Deapati ini berangkat dari cerita rakyat yang sangat populer dikalangan masyarakat Makassar, yang dituturkan oleh orang-orang tua kepada anak cucu mereka, agar mereka dapat memetik hikmah dari pendidikan, perjuangan dan kesetiaan. 

Begitu hebatnya cerita antara Datu Museng Putra Karaeng Gassing Bangsawan Kerajaan Gowa dan Maipa Deapati Putri bangsawan Kerajaan Sumbawa ini tertanam di dalam benak orang-orang makassar, sehingga kemudian nama dari kedua tokoh legendaris ini pantas untuk diabadikan sebagai nama jalan di Kota Makassar, Nama jalan itu seakan sengaja dibuat berdampingan saling berdekatan seakan-akan Pemerintah Kota Makassar turut merestui hubungan percintaan abadi mereka berdua.

Pada ujung barat jalan Datu Museng, terdapat situs makam dengan dua nisan kayu yang bersanding kukuh, yang konon katanya itulah makam kedua pasangan cinta ini dimakamkam, Datu Museng dan kekasihnya Maipa Deapati.

Kisah percintaan Datu Museng dan Maipa Deapati ini berawal ketika Ade Arangan kakek dari Datu Museng melarikan diri bersama cucunya menyebarangi lautan nan luas menuju ke negeri sumbawa, akibat dari politik adu domba yang dilancarkan penjajah belanda di tanah Gowa, yang Mengakibatkan terBunuhnya Kedua orang Tua Datu Museng Yaitu Ayahanda Karaeng Gassing (Salah satu Anak dri Ade Arangan) dr KeRajaan Gowa dan Ibunya dri Putri Bangsawan Galesong..membuat bumi Gowa bergejolak dan tidak kondusif lagi untuk dijadikan tempat tinggal yang aman.

Di Pulau sumbawa itulah akhirnya Datu Museng tumbuh menjadi seorang yang dewasa dan bertemu dengan Maipa Deapati di Pondok Pengajian Mampewa. Akhirnya tumbuh benih cinta dihati Datu Museng sejak pertama kali melihat sosok Maipa Deapati yang anggun dan mempesona. Namun cinta dari Datu Museng kepada Maipa Deapati menjadi sebuah cinta yang terlarang karena Maipa Deapati telah ditunangkan dengan seorang pangeran Kesultanan Sumbawa, Pangeran Mangalasa.

Setelah kakek Datu Museng mengetahui bahwa cucunya mencintai Maipa Deapati, alangkah terkejutnya sang kakek. Sang kakek dari Datu Museng merasa malu karena merasa bahwa mereka hanyalah sebongkah emas yang telah terkotori oleh lumpur, sedangkan Maipa Deapati adalah Putri Kerajaan Sumbawa.

Datu Museng mengetahui bahwa cintanya kepada Maipa Deapati terhalang oleh tembok yang kokoh, maka atas anjuran sang kakek, berangkatlah Datu Museng ke tanah Mekkah untuk berguru. Disanalah ia mendapatkan ilmu "Bunga Ejana Madina". Kepergian Datu Museng ke tanah Mekah ternyata bukannya membuat kedua insan yang saling mencinta ini menjadi terpisah, melainkan perpisahan itu malah semakin membuat ikatan hati antara keduanya semakin kuat.

Selepas mendapatkan ilmu di tanah rantau Mekkah, maka Datu Museng pulang kembali ke Sumbawa dengan membawa rindu yang sangat besar kepada Maipa Deapati. Sesampainya di Sumbawa ternyata sang kekasih yang dirindukan jatuh sakit, maka Datu Musengpun menolong Maipa Deapati dengan ilmu yang didapatkannya dari tanah Mekkah.

Mendengar kabar bahwa sang tunangan Maipa Deapati mencintai Datu Museng, membuat perasaan cemburu di hati Pangeran Mangalasa bergejolak, Pangeran Mangalasa lantas bersekutu dengan Belanda dengan tujuan untuk membunuh Datu Museng. Tetapi Datu Museng yang teramat sakti itu tak dapat dikalahkan oleh Pangeran Mangalasa dan Belanda. 
 
Dan Pangeran Mangalasa serta sekutu belanda yg membantunya akhirnya Kalah oleh Datu Museng yg di bantu Kakeknya Ade Ngareng

Sultan Sumbawa pun Kecewa dengan Pangeran Mangalasa yg Kalah hanya melawan dua org saja yaitu Datu Museng dgn Kakeknya Adearangan..Bgmna bisa melindungi Putrinya Kelak serta Rakyatnya

Akhirnya Datu Museng mendapat restu dari Sultan Sumbawa krna Kesaktiannya, merekapun lantas dinikahkan dan Datu Museng diberikan pangkat sebagai Pangllima perang. Belum beberapa lama menikah, berhembus kabar bahwa di Makassar tengah bergejolak kekacauan yang disebabkan oleh pemerintah Belanda yang berkuasa ditanah Makassar. Sultan Lombok lantas meminta Datu Museng ke Makassar untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Maka berangkatlah Datu Museng dan istrinya Maipa Deapati ke tanah Makassar, setibanya di Makassar, Datu Museng mendapatkan tantangan lain karena Kapten dari Belanda itu justru mencintai Maipa Daepati, dan Belanda Menyewa para pendekar2 Makassar yg tangguh utk membatu Melawan Datu Museng yg terkenal Sangat SAKTI, Belanda dan para Penghianat melancarkan berbagai macam serangan kepada Datu Museng untuk merebut Maipa Deapati dari Datu Museng, tetapi Serangan belanda dan para Penghianat selalu Gagal karna Keperkasaan sang Datu Museng. 
 
Hinggah akhirnya Belanda Menambah pasukannya serta meminta Bantuan para Joara Pendekar Makassar utk membantu melawan Datu Museng Akibatnya Datu Musengpun terdesak akibat serangan Belanda tersebut. Namun bagi Maipa Deapati cintanya ke Datu Museng adalah harga mati baginya, ia tidak mengijinkan seorang pun untuk mengambilnya dari Datu Museng.

Datu Museng dan Istrinya Maipa beserta beberapa org Pengawalnya Akhirnya Terkepung oleh Belanda dan Para Penghianat yg membantu Belanda.
 
Datu Museng sedikitpun tidak Gentar utk melawan, Datu Museng yakin bisa mengalahkan semua Pasukan serta para penghianat yg bergabung dgn Belanda..
 
Cuma yg jadi keKuatiran Datu Museng adalah Istrinya Maipa, yg tdk mungkin ia bsa selalu Melindungi istrinya selama Pertempuran, bisa saja Datu Melawan tpi istrinya pasti di Sandera dan jatuh ke Pelukan Capiten Belanda.
 
Dan Maipa Deapati pun yakin Bahwa Suaminya bisa mengalahkan semua Pasukan beserta para penghianat yg membantu Belanda, tetapi Maipa sadar krna Banyaknya pasukan belanda, Maipa takut klau belanda Menculik dirinya pda saat Suaminya Bertempur, dan Maipa tidak Mau jatuh dlm Pelukan Penjajah Belanda serta Tidak mau Menodai Cinta Sucinya kepada Suaminya

Hingga akhirnya Sang kekasih Maipa Deapati lantas meminta kepada Datu Museng untuk membunuhnya, sebab cintanya kepada Datu Museng hanya untuk Datu Museng seorang, ia merasa lebih baik mati di tangan orang yg ia cintai daripada harus menyerahkan dirinya kepada Penjajah Belanda.

“Datu ku, jangan ragukan ketulusan Maipamu. Aku rela pergi mendahuluimu, merintis jalan menuju tempat yang telah ditentukan oleh Maha Pencipta. Junjunganku Datu, aku rela mati di tanganmu. Tuhan jadi saksi, bahwa kuharamkan kulitku ini disentuh Balandaya (Belanda).“ – Dariku Maipa Deapati

Dengan sangat berat hati Datu Museng lantas mengabulkan permintaan sang istri

Datu Museng pun Ber JANJI kepada Istrinya 
 
Sebelum permintaan itu dikabulkan, Datu Museng sempat berpesan. “Kalau adinda sudah jalan duluan menghadap ILahi, kalau saya tak menyusul di waktu Duhur, tunggu di waktu ashar, tapi kalau tak ada di waktu Ashar, pasti saya datang menemuiamu di waktu Magrib sebelum Matahari TerBenam”. Sertelah itu Datu kemudian melaksanakan permintaan istrinya dengan menusuk leher sang Kekasih terCinta Maipa dgn badik Pusakanya hingga menemui ajalnya. Setelah itu, mayat Maipa dibaringkan di ruang tengah seperti Layaknya orang lagi tidur.

Setelah itu, Datu Museng pun Kluar Melawan Pasukan yg Mengepungnya
Dan Membunuh satu persatu Pasukan serta para Penghianat yang membantu Belanda untuk melawan Dirinya

Disaat memasuki waktu Duhur, Datu Museng masih sangar melawan, demikian juga di waktu Ashar Datu Museng pun balum terkalahkan bahkan Dia seperti Harimau yg Kelaparan membantai para Penjajah Belanda serta para Penghianat, tetapi ketika memasuki waktu Magrib Datu Museng terSadar dengan JANJI nya kpada Istrinya terCinta, walau Datu Museng yakin masih bisa melawan dan membunuh semua pasukan serta sekutu, tetapi JANJI nya pada istrinya Maipa Deapati sudah sampai dan ia segera menyusul saat Magrib sebelum Matahari terbenam dan dia tidak bisa mengingkari JANJInya pada Sang Istri terCinta. Apa lagi ia sudah melihat bayangan Maipa di ufuk barat sudah melambai-lambai

karena rasa cinta yang dalam kepada istrinya Maipa Deapati, Datu Musengpun lalu melepaskan semua ilmu ilmu Kesaktian yang dimilikinya termasuk Bunga Ejana Madina, dan membiarkan dirinya dibunuh dengan muda oleh penjajah Belanda tanpa ada perlawanan lagi. Kisah inilah yang terus dikenang oleh masyarakat makassar, kisah percintaan Romeo And Juliet Versi Makassar,,,, ( MTK Group )

PUTERI JUNJUNG BUIH

Tersebutlah kisah sebuah kerajaan bernama Amuntai di Kalimantan Selatan. Kerajaan itu diperintah oleh dua bersaudara. Raja yang lebih tua bernama Patmaraga, atau diberi julukan Raja Tua. Adiknya si Raja muda bernama Sukmaraga. Kedua raja tersebut belum mempunyai putera ataupun puteri.

Namun diantara keduanya, Sukmaraga yang berkeinginan besar untuk mempunyai putera. Setiap malam ia dan permaisurinya memohon kepada para dewa agar dikarunia sepasang putera kembar. Keinginan tersebut rupanya akan dikabulkan oleh para dewa. Ia mendapat petunjuk untuk pergi bertapa ke sebuah pulau di dekat kota Banjarmasin. Di dalam pertapaannya, ia mendapat wangsit agar meminta istrinya menyantap bunga Kastuba. Sukmaraga pun mengikuti perintah itu. Benar seperti petunjuk para dewa, beberapa bulan kemudian permaisurinya hamil. Ia melahirkan sepasang bayi kembar yang sangat elok wajahnya.

Mendengar hal tersebut, timbul keinginan Raja Tua untuk mempunyai putera pula. Kemudian ia pun memohon kepada para dewa agar dikarunia putera. Raja Tua bermimpi disuruh dewa bertapa di Candi Agung, yang terletak di luar kota Amuntai. Raja Tua pun mengikuti petunjuk itu. Ketika selesai menjalankan pertapaan, dalam perjalanan pulang ia menemukan sorang bayi perempuan sedang terapung-apung di sebuah sungai. Bayi tersebut terapung-apung diatas segumpalan buih. Oleh karena itu, bayi yang sangat elok itu kelak bergelar Puteri Junjung Buih.

Raja Tua lalu memerintahkan pengetua istana, Datuk Pujung, untuk mengambil bayi tersebut. Namun alangkah terkejutnya rombongan kerajaan tersebut, karena bayi itu sudah dapat berbicara. Sebelum diangkat dari buih-buih itu, bayi tersebut meminta untuk ditenunkan selembar kain dan sehelai selimut yang harus diselesaikan dalam waktu setengah hari. Ia juga meminta untuk dijemput dengan empat puluh orang wanita cantik.

Raja Tuapun lalu menyayembarakan permintaan bayi tersebut. Ia berjanji untuk mengangkat orang yang dapat memenuhi permintaan bayi tersebut menjadi pengasuh dari puteri ini. Sayembara itu akhirnya dimenangkan oleh seorang wanita bernama Ratu Kuripan. Selain pandai menenun, iapun memiliki kekuatan gaib. Bukan hanya ia dapat memenuhi persyaratan waktu yang singkat itu, Ratu Kuripan pun menyelesaikan pekerjaannya dengan sangat mengagumkan.

Kain dan selimut yang ditenunnnya sangatlah indah. Seperti yang dijanjikan, kemudian Raja Tua mengangkat Ratu Kuripan menjadi pengasuh si puteri Junjung Buih. Ia ikut berperanan besar dalam hampir setiap keputusan penting menyangkut sang puteri.

7.25.2016

PAK LEBAI MALANG

Tersebutlah kisah seorang guru agama yang hidup di tepi sungai disebuah desa di Sumatera Barat. Pada suatu hari, ia mendapat undangan pesta dari dua orang kaya dari desa-desa tetangga.

Sayangnya pesta tersebut diadakan pada hari dan waktu yang bersamaan.

Pak Lebai menimang- nimang untung dan rugi dari setiap undangan. Tetapi ia tidak pernah dapat mengambil keputusan dengan cepat. Ia berpikir, kalau ia ke pesta di desa hulu sungai, tuan rumah akan memberinya hadiah dua ekor kepala kerbau.

Namun, ia belum begitu kenal dengan tuan rumah tersebut. Menurut berita, masakan orang-orang hulu sungai tidak seenak orang hilir sungai. Kalau ia pergi ke pesta di hilir sungai, ia akan mendapat hadiah seekor kepala kerbau yang dimasak dengan enak. Ia juga kenal betul dengan tuan rumah tersebut. Tetapi, tuan rumah di hulu sungai akan memberi tamunya tambahan kue-kue. Hingga ia mulai mengayuh perahunya ketempat pestapun ia belum dapat memutuskan pesta mana yang akan dipilih.

Pertama, dikayuh sampannya menuju hulu sungai. Baru tiba tiba ditengah perjalanan ia mengubah pikirannya. Ia berbalik mendayung perahunya ke arah hilir. Begitu hampir sampai di desa hilir sungai. Dilihatnya beberapa tamu menuju hulu sungai. Tamu tersebut mengatakan bahwa kerbau yang disembelih disana sangat kurus. Iapun mengubah haluan perahunya menuju hulu sungai.

Sesampainya ditepi desa hulu sungai, para tamu sudah beranjak pulang. Pesta disana sudah selesai.

Pak lebai cepat-cepat mengayuh perahunya menuju desa hilir sungai. Sayangnya, disanapun pesta sudah berakhir. Pak Lebai tidak mendapat kepala kerbau yang diinginkannya.

Saat itu ia sangat lapar, ia memutuskan untuk memancing ikan dan berburu. Untuk itu ia membawa bekal nasi. Untuk berburu ia mengajak anjingnya.

Setelah memancing agak lama, kailnya dimakan ikan. Namun kail itu menyangkut di dasar sungai. Pak Lebaipun terjun untuk mengambil ikan tersebut. Sayangnya ikan itu dapat meloloskan diri.

Dan anjingnya memakan nasi bekal pak Lebai. Oleh karena kemalangan nasibnya, pak Lebai diberi julukan Lebai Malang.

LA DANA DAN KERBAU

La Dana adalah seorang anak petani dari Toraja. Ia sangat terkenal akan kecerdikannya. Kadangkala kecerdikan itu ia gunakan untuk memperdaya orang. Sehingga kecerdikan itu menjadi kelicikan.

Pada suatu hari ia bersama temannya diundang untuk menghadiri pesta kematian. Sudah menjadi kebiasaan di tanah toraja bahwa setiap tamu akan mendapat daging kerbau. La Dana diberi bagian kaki belakang dari kerbau. Sedangkan kawannya menerima hampir seluruh bagian kerbau itu kecuali bagian kaki belakang. Lalu La Dana mengusulkan pada temannya untuk menggabungkan daging-daging bagian itu dan menukarkannya dengan seekor kerbau hidup. Alasannya adalah mereka dapat memelihara hewan itu sampai gemuk sebelum disembelih. Mereka beruntung karena usulan tersebut diterima oleh tuan rumah

Seminggu setelah itu La Dana mulai tidak sabar menunggu agar kerbaunya gemuk. Pada suatu hari ia mendatangi rumah temannya, dimana kerbau itu berada, dan berkata “Mari kita potong hewan ini, saya sudah ingin makan dagingnya.” Temannya menjawab, “Tunggulah sampai hewan itu agak gemuk.” Lalu La Dana mengusulkan, “Sebaiknya kita potong saja bagian saya, dan kamu bisa memelihara hewan itu selanjutnya.” Kawannya berpikir, kalau kaki belakang kerbau itu dipotong maka ia akan mati. Lalu kawannya membujuk La Dana agar ia mengurungkan niatnya. Ia menjanjikan La Dana untuk memberinya kaki depan dari kerbau itu.

Seminggu setelah itu La Dana datang lagi dan kembali meminta agar bagiannya dipotong. Sekali lagi kawannya membujuk. Ia dijanjikan bagian badan kerbau itu asal La Dana mau menunda maksudnya. Baru beberapa hari berselang La Dana sudah kembali kerumah temannya. Ia kembali meminta agar hewan itu dipotong. Kali ini kawannya sudah tidak sabar, dengan marah ia pun berkata, “Kenapa kamu tidak ambil saja kerbau ini sekalian! Dan jangan datang lagi untuk mengganggu saya.” La dana pun pulang dengan gembiranya sambil membawa seekor kerbau gemuk.

NENEK PAKANDE (NENEK SILUMAN)

Dikisahkan di sebuah daerah Sulawesi Selatan datanglah seorang nenek. Dari penampilan, nenek ini hanya orang biasa. Masyarakat yang ramah menerima kedatangan si nenek tanpa disadari bahwa nenek yang datang adalah Nenek Pakande (Legenda Mitos Masyarakat Bugis). 

Kalian tahu Nenek Pakande? dia adalah siluman yg senang memakan manusia. Nenek Pakande melakukan aksinya saat matahari tenggelam. Hari demi hari banyak anak-anak yang hilang misterius. Gara-gara kejadian ini, diadakanlah rembug kampung.

Tentu kita tidak boleh mendiamkan hal ini. Kami khawatir, yang jadi korban berikutnya anak-anak kami, ucap salah seorang masyarakat.

Siapa yang melakukannya? 

Sepertinya Nenek Pakande 

Nenek Pakande? Bagaimana dia masuk ke daerah kita? 

Nenek Pakande itu berilmu tinggi bagaimana bisa melawannya? 

Apa baiknya kita minta tolong Raja Bangkung? (Raja Bangkung adalah mitos seorang raksasa yang suka memangsa manusia jahat) 

Tapi keberadaannya sudah tidak terdengar.

Suasana hening, 

Disaat itu Beddu : Bagaimana kalau kita mengerjainnya? Tapi saya minta belut, bangkai sapi, busa sabun dan batu besar. 

Saat malam, bayi ditaruh di rumah Beddu untuk memancing Nenek Pakande datang. Benar saja, Nenek Pakande datang. Saat berada di depan kamar, terdengarlah suara. Suara itu suara La Beddu yang bersembunyi di atap. 

Kenapa kamu? Jangan makan bayi itu, Dasar siluman! 

Saya tidak percaya kamu Raja Bangkung! 

La Beddu memerintahkan warga menumpahkan air sabun 

Saya lapar, Nenek Pakande. Lihat air liurku mengalir 

Beddu memerintahkan lagi warga untuk menjatuhkan bangkai sapi 

Melihat itu Nenek Pakande takut. Nenek Pakande yang lari ketakutan tergelincir, Nenek Pakande Kepalanya membentur batu. Walaupun linglung, Nenek Pakande tetap memaksa lari dan akhirnya pergi.

Sebelum meninggalkan desa, Nenek Pakande mengancam dan berkata "Saya akan memantau anak kalian di atas sana dengan cahaya rembulan di malam gelap. Suatu saat saya akan kembali memangsa anak-anak kaliaaaan...." 

*SEKIAN 
Dongeng ini diceritakan turun temurun di masyarakat bugis, kisah ini diceritakan untuk anak-anak agar tidak bermain lagi di luar rumah pada saat petang :)