Kerangka Tulang Zaman Batu Ditemukan di Gurun Sahara

Kerangka Tulang Zaman Batu Ditemukan di Gurun Sahara
Kerangka tulang, livescience
Para arkeolog telah menemukan tengkorak Zaman Batu di dalam dan sekitar tempat penampungan batu di gurun Sahara, Libya, demikian dikatakan sebuah studi baru. Kerangka tersebut berusia sekitar 8.000 dan 2.400 tahun yang lalu, yang berarti tempat pemakaman tersebut telah digunakan selama ribuan tahun.

“Tempat ini pastinya memiliki banyak kenangan,” kata rekan penulis studi, Mary Anne Tafuri, seorang arkeolog di University of Cambridge. “Orang-orang sepanjang waktu telah menyimpannya, dan mereka telah mengubur orang-orang mereka, berulang, dari generasi ke generasi.”

Sekitar 15 perempuan dan anak-anak dimakamkan di tempat penampungan batu itu, sementara lima laki-laki dan remaja terkubur di bawah tumpukan batu raksasa yang disebut tumuli luar selama masa setelahnya, ketika wilayah tersebut berubah menjadi gurun.

Penemuan tersebut, yang dirinci pada edisi Maret “Journal of Athropological Arcaeology”, menunjukkan betapa budaya berubah seiring iklim. 


Millenia Penguburan

Mulai dari 8.000 hingga 6.000 tahun yang lalu, wilayah gurun Sahara, yang disebut Wadi Takarkori, dipenuhi dengan vegetasi kerdil dan potongan daun musiman. Seni batu pahat yang menakjubkan menggambarkan orang-orang kuno menggiring hewan, seperti sapi, yang membutuhkan banyak air karena hidup di lingkungan yang tidak mendukung, kata Tafuri. 

Tafuri dan koleganya, Savino, di Lernia mulai menggali situs arkeologi sejak 2003 dan 2006. Di situs yang sama, para arkeolog juga menemukan gubuk, tulang hewan dan pot dengan jejak dari produk susu fermentasi awal di Afrika.

Untuk mengetahui usia kerangka tulang tersebut, Tafuri mengukur sisa konsenterasi isotop, atau molekul dari unsur yang sama dengan bobot yang berbeda.

Tim itu juga menyimpulkan bahwa kerangka tersebut telah terkubur selama empat ribu tahun. Sebagian besar dari sisa-sisa di penampungan batu terkubur antara 7.300 dan 5.600 tahun lalu.

Para pria dan remaja di bawah tumpukan batu telah terkubur sejak 4.500 tahun yang lalu, ketika daerah itu telah lebih kering. Seni batu menunjukkan peristiwa kekeringan di daerah tersebut, seperti lukisan gua mulai menggambarkan kambing, yang membutuhkan air jauh lebih sedikit untuk digembalakan dibandingkan dengan sapi, kata Tafuri.

Orang-orang kuno juga bertempat tinggal tidak jauh dari daerah tempat mereka dikuburkan, berdasarkan pada perbandingan isotop dalam email gigi, yang terbentuk di masa awal kanak-kanak, dengan unsur-unsur di lingkungan terdekat.


Pergeseran Dalam Budaya

“Penggunaan eksklusif penampungan batu untuk penguburan perempuan dan orang dewasa menunjukkan adanya pembagian kelompok berdasarkan gender,” tulis Marina Gallinaro, seorang peneliti studi Afrika di Sapienza University of Rome, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, lewat email kepada LiveScience. 

Salah satu kemungkinan adalah bahwa selama periode sebelumnya, perempuan memiliki peranan yang lebih penting di masyarakat, dan keluarga mungkin bahkan melacak keturunan mereka lewat garis hubungan perempuan. Tapi begitu Sahara mulai berekspansi tak kenal hentinya di wilayah tersebut sekitar 5 ribu tahun lalu, budaya bergeser dan pria yang lebih menonjol mungkin telah meningkat sebagai hasilnya, tulis Gallinaro.

Daerah tersebut secara keseluruhan penuh dengan ratusan situs yang belum digali, kata Luigi Boitani, seorang ahli biologi di Sapienza University of Rome, yang telah bekerja di situs arkeologi wilayah tersebut tetapi tidak terlibat dalam penelitian ini.

“Daerah tersebut adalah harta yang belum dimanfaatkan,” kata Boitani.

Penemuan baru itu juga menyoroti kebutuhan untuk melindungi wilayah rapuh, yang telah tertutup bagi arkeolog sejak revolusi yang menggulingkan diktator Moammar el Gadhafi.

Takarkori sangat dekat dengan jalan utama yang mengarah dari Libya ke negara tetangganya, Nigeria, sehingga pemberontak dan tokoh politik terkenal, seperti putra Gadhafi, telah sering melewati daerah itu untuk melarikan diri, katanya.



March 12, 2013

0 komentar:

Post a Comment